• June 13, 2024

Rusia Sebutkan Negara Ini Korban Selanjutnya Sesudah Ukraina

Rusia Sebutkan Negara Ini Korban Selanjutnya Sesudah Ukraina

Jakarta, MGO777 – Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov memberi teror tersurat pada Moldova di tengah-tengah perang yang berjalan di antara negaranya menantang Ukraina.

Lavrov menjelaskan jika Moldova, sebuah negara di Eropa Timur dan sisa republik Soviet, lagi ada dalam bahaya karena kemauannya untuk gabung dengan Uni Eropa. Pengakuan itu dikatakannya dalam pertemuan tingkat menteri yang diselenggarakan oleh Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE), organisasi keamanan regional paling besar di dunia, Kamis (30/11/2023).

Pada Juni 2022, Uni Eropa (UE) dan beberapa negara anggotanya memberi support penuh ke Moldova dan memberikannya status calon. Support itu dipertegas lagi di bulan Maret tahun ini, dengan UE dan anggotanya janji untuk selalu memberi support keamanan dan ekonomi ke Moldova sekalian menanti jalan ke arah aksesi.

“Memorandum Kozak, yang semestinya dapat menuntaskan keadaan di Moldova 20 tahun kemarin, adalah usaha yang tidak berhasil untuk menuntaskan permasalahan kronis di benua kita berdasar beberapa prinsip OSCE,” kata Lavrov, d ikutip Newsweek.

“Di saat itu, NATO dan Uni Eropa Brussels secara tidak menyengaja ‘menorpedo’ document itu…. Kenyataannya, Moldova ditakdirkan menjadi korban selanjutnya dalam perang hibrida menantang Rusia yang dilancarkan oleh Barat.”

Memorandum Kozak ialah gagasan tahun 2003, yang disarankan oleh Rusia, yang berusaha menuntaskan jalinan di antara Moldova dan Transnistria, daerah separatis yang memisah diri dari Moldova di tahun 1990. Memorandum itu pada akhirnya ditampik oleh Vladimir Voronin, yang waktu itu jadi presiden Moldova.

Pada Kamis, Kementerian MGO55 Luar Negeri Moldova mencela komentar Lavrov, menyebutkan agresi Rusia ke Ukraina “beringas” dan menjelaskan jika Moldova “sudah rasakan semua usaha destabilisasi yang sudah dilakukan Rusia pada kami.”

“Pengakuan Rusia, baik ini hari atau awalnya, ialah sisi dari rangkaian perlakuan perseteruan yang mencoba diaplikasikan Liga Rusia pada negara kami sepanjang 30 tahun akhir,” bunyi pengakuan itu.

“Untungnya, sejauh ini, beberapa negara partner di Barat sudah ada pada pihak kita, menolong kita menangani ancaman-ancaman ini dengan sukses.

“Ingat Menteri Lavrov masih datang pada tatap muka tingkat menteri OSCE, kami mengharap pesan kami-yang terang dan tajam-akan bisa dimengerti olehnya : Republik Moldova, tidak bisa diganti kembali, ke arah Eropa dan ini hari, lebih dari awalnya, kami mendesak penarikan selekasnya dan tanpa persyaratan pasukan Rusia dari daerah kami.”

Di tanggal 24 November, beberapa petinggi Rusia mencela Moldova dan memberikan ancaman akan membalasnya sesudah parlemen negara itu memilih untuk ikut dalam ancaman UE pada Rusia berkenaan dengan perang di Ukraina. Cara Moldova ini adalah sisi dari usaha untuk mengganti undang-undang hingga negara itu bisa ajukan usaha untuk gabung dengan UE.

Anton Gerashchenko, penasihat Kementerian Dalam Negeri Ukraina, menulis di X (awalnya Twitter) jika komentar Lavrov “memperjelas jika Rusia tidak mempunyai niat untuk stop di Ukraina terkecuali bila hal tersebut disetop.”

Mikhail Troitskiy, profesor praktek di Kampus Wisconsin-Madison, menjelaskan ke Newsweek jika komentar Lavrov “menekan” pandangan Rusia jika mereka didorong atau dipaksakan untuk menginvasi Ukraina karena negara itu makin dekat sama akseptasi MGO777 NATO.

Pengakuan baru Lavrov mungkin bisa dibuktikan jadi garis merah lebih besar, imbuhnya, karena bukan hanya akseptasi NATO tapi akseptasi ke UE sekarang dipandang tidak bisa diterima oleh Rusia.

“Lavrov menunjukkan jika permasalahan Moldova untuk Rusia ialah jika Moldova dan partner-mitra Baratnya memaksakan Rusia keluar proses dari Transnistria,” kata Troitskiy. “Tapi tidak sama republik-republik separatis Donbas di Ukraina timur, Transnistria sebelumnya tidak pernah dipandang oleh Rusia sebagai rintangan keamanan besar untuk dunia Rusia,” kata Troitskiy.

“Karena itu, lumrah bila Moldova menganggap sebagai teror sama sama yang dikeluarkan Moskow ke Kyiv di awal tahun 2022,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *