• April 13, 2024

Pernyataan Calon Dokter Specialist: Diperas Dosen Beberapa ratus Juta

Kasus penghinaan (bullying) yang terjadi di lingkungan pendidikan kedokteran tengah menjadi satu diantara sorotan khusus Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) sekarang ini.
Menteri Kesehatan (Menteri kesehatan RI), Budi Gunadi Sadikin, mengutarakan jika bullying di lingkungan pendidikan kedokteran ialah ‘tradisi’ yang terjadi sepanjang beberapa puluh tahun. Dia menjelaskan, ‘tradisi’ itu sering terjadi pada pendidikan dokter umum, internship, dan dokter specialist.

Pada beberapa kasus, beberapa calon dokter yang tempuh pendidikan ‘diperas’ mati-matian secara fisik, psikis, sampai keuangan. Prihatinnya, ‘pemerasan’ ini dilaksanakan oleh beberapa dosen.

Pemerasan Dosen: Membeli Camera Mahal sampai Gathering di Hotel Eksklusif

Putri (bukan nama sebetulnya), calon dokter specialist yang sedang tempuh pendidikan dalam suatu kampus negeri di Pulau Jawa, memaparkan bukti bagaimana dia dan beberapa temannya diperas oleh beberapa dosen dan konsulen.

“Sesudah keterima [Program Pendidikan Dokter Specialist/PPDS], diundang, nih. Satu barisan yang diterima, itu diminta uang, [jumlahnya] bergantung dari rapat dosennya. Uangnya entahlah seseorang Rp50 juta atau Rp75 juta,” tutur Putri
“Ucapnya, sich, untuk ongkos kehidupan sepanjang PPDS, tetapi pada realitanya kita masih tetap ada pengeluaran selain itu,” keluhnya.

Tidak hanya itu, menurut Putri, dosen minta beberapa peserta PPDS untuk beli alat praktek punya rumah sakit, walau sebenarnya semestinya itu semua ialah kewajiban rumah sakit, bukan peserta PPDS.

Disamping itu, ada juga dosen yang memerah dengan minta sarana di luar keperluan khusus pendidikan kedokteran specialist, seperti meminta dibuatkan studio podcast sampai dibelikan camera mahal.

Menurut Putri, beberapa dosen berargumen jika sarana itu akan dipakai untuk mendukung proses pendidikan beberapa peserta PPDS, seperti camera untuk memfoto keadaan pasien. Karena itu, camera diletakkan di RS.

“Ada salah satunya dosen yang menyukai meminta serba aneh, misalkan ‘Kita membuat podcast, nih, di YouTube. Saat ini peserta PPDS semester satu membuat studio podcast, ya,’. Studio podcast, kan, mahal, ya, alat-alatnya. Semua komplet yang bayar [peserta PPDS] semester satu,” ungkapkan Putri.

“Dasarnya, tiap ada residen (peserta PPDS) baru harus memberi suatu hal.sebuah hal. Sempat ada residen yang disuruh beliin camera. Camera itu bukan yang murah, harga Rp40 juta-an begitu, dosennya memerintah,” tuturnya.

Di luar RS, beberapa peserta PPDS kembali diperas oleh beberapa dosen untuk acara famili gathering. Tidak main-main, acara gathering diadakan di hotel atau villa, mengundang aktris terkenal, sampai sewa ballroom hotel untuk performa aktris, makan siang, atau gala dinner.

“Beberapa anak semester 1, 2, dan 3 itu yang ngebayarin semua,” bebernya.

Bayar ongkos pesawat untuk dosen dan keluarganya

Selama saat pendidikan berjalan, Putri menjelaskan seringkali RS melangsungkan tatap muka ilmiah beberapa dokter. Tetapi, semua ongkos yang dibutuhkan bukan asal dari RS, tetapi dari dompet beberapa peserta PPDS.

Putri dan beberapa rekannya sama-sama calon dokter specialist disuruh sediakan transportasi, seperti kereta atau pesawat, untuk dosen dan keluarganya.

“Kelak, kan, kita telephone satu-persatu dosen, ‘Dok, esok acara tatap muka ini sudi ingin dimintakan berapakah ticket?’ begitu. Kelak dosennya ada yang, ‘Oh, yaudah tolong pesankan semua, ya, seperti umumnya,’ begitu,” narasi Putri.

“Semua, tuch, seperti ia, istrinya, dan anaknya. Misalkan [ada] lima [orang], turut semua,” papar Putri.

Prihatinnya, penghinaan dilaksanakan beberapa senior sama-sama calon dokter specialist. Mengakibatkan, cukup banyak peserta PPDS yang memilih untuk berserah dan stop untuk meneruskan pendidikannya.

Tidak kuat dengan adat toksik itu, ada pula calon dokter alami stres, sampai konsumsi obat antidepresan karena tingginya penekanan psikis sepanjang pendidikan kedokteran specialist.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *