• April 14, 2024
Panduan Tepat Latih Anak Berpuasa dari Teman dekat Nabi, Jangan Galak-Galak! Plashoeve.com, Cilacap - Puasa adalah beribadah wajib dilakukan di bulan suci Ramadan. Puasa secara bahasa bermakna meredam.

Panduan Tepat Latih Anak Berpuasa dari Teman dekat Nabi, Jangan Galak-Galak!

Panduan Tepat Latih Anak Berpuasa dari Teman dekat Nabi, Jangan Galak-Galak!

Plashoeve.com, Cilacap – Puasa adalah beribadah wajib dilakukan di bulan suci Ramadan. Puasa secara bahasa bermakna meredam. Dan secara syara’, puasa adalah meredam dari segala hal yang menggagalkan puasa.

Banyak beberapa hal yang menggagalkan puasa seperti masuknya suatu hal ke badan secara menyengaja, berobat dengan memasukkan obat atau benda ke qubul atau dubur, muntah dengan menyengaja.

Selanjutnya, berjima’ pada siang hari dengan menyengaja, keluar air mani karena bersinggungan kulit, haid atau nifas, edan dan murtad atau keluar agama Islam.

Berpuasa sebagai beribadah dan sisi dari latihan kesabaran perlu dikenalkan ke sang kecil. Beberapa anak perlu dilatih jalani puasa Ramadhan, disamakan kekuatan.

Beberapa dari kita pasti ada yang ‘memaksa’ anak agar berpuasa. Tetapi, rupanya ada panduan tepat latih anak agar sang buah kesayangan dapat serta tertarik berpuasa.

Adapun hal latih anak untuk berpuasa agar sukses ada panduan unik dari beberapa teman dekat Nabi SAW di bawah ini.

Membikinkan atau Memberi Bermainan Beberapa anak

Menukil Muslim.or.id, rupanya telah ada contoh beberapa teman dekat di periode lalu untuk mendidik beberapa anak mereka sampai dapat berpuasa penuh sampai waktu buka.

عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ قَالَتْ أَرْسَلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ « مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ ، وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيَصُمْ ». قَالَتْ فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا ، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ ، حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الإِفْطَارِ
“Dari Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz, dia berbicara, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelumnya pernah mengutus seorang ke salah satunya suku Anshar pada pagi hari Asyura.” Beliau bersabda, “Siapakah yang pada pagi hari pada kondisi tidak berpuasa, sebaiknya dia berpuasa. Siapakah yang pada pagi harinya berpuasa, sebaiknya berpuasa.” Ar Rubayyi’ menjelaskan, “Kami berpuasa kemudian. Lantas beberapa anak kami juga ikut berpuasa. Kami menyengaja membikinkan mereka bermainan dari bulu. Bila salah seorang pada mereka menangis, merengek meminta makan, kami memberikan bermainan kepadanya. Pada akhirnya juga mereka dapat ikut berpuasa sampai waktu buka.” (HR. Bukhari no. 1960 dan Muslim no. 1136)

Sunnah Mengajari Sejak Kecil

Ibnu Batthol menerangkan jika beberapa ulama setuju, beribadah dan kewajiban baru dikenai saat sudah baligh (dewasa). Tetapi umumnya ulama telah menyunnahkan (menyarankan) mendidik anak untuk berpuasa semenjak kecil, begitupun untuk beribadah yang lain. Ini untuk keberkahannya dan supaya membuat mereka terlatih semenjak kecil, hingga makin gampang mereka kerjakan saat sudah diharuskan.

Al Muhallab berpandangan, hadits ini memiliki kandungan pelajaran jika siapa pun yang ajak anak untuk lakukan ketaatan pada Allah, ajak mereka untuk konsisten saat jalankan beribadah, mereka itu akan dikasih pahala karena hal tersebut. Kesusahan saat mewajibkan mereka untuk lakukan semacam itu tidak membuat mereka susah.

Ibnul Mundzir berbicara jika beberapa ulama berbeda opini dalam soal kapan anak diperintah untuk berpuasa. Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin, ‘Urwah, ‘Atho’, Az Zuhri, Qatadah, Imam Syafi’i berpandangan jika mereka diperintah puasa saat mereka telah sanggup. Al Auza’i mempunyai pandangan jika mereka dikenai kewajiban puasa saat mereka telah sanggup berpuasa 3 hari beruntun dan tidak merasakan lemas saat tersebut. (Syarh Al Bukhari li Ibni Batthol, 7: 125)

Latih Ketaatan Ke Allah

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Hadits di atas memperlihatkan perintah untuk latih anak saat lakukan ketaatan dan mendidik mereka untuk melaksanakan ibadah. Namun, mereka tetap belum terbeban syariat atau memang belum mukallaf. Dan Al Qadhi menjelaskan jika sudah ada kisah dari Urwah, saat sudah sanggup puasa, anak telah wajib puasa. Tetapi pengakuan terang salah karena berlawanan dengan hadits shahih yang mengatakan, “Pena diambil dari 3 orang (di antaranya), dari anak kecil sampai dia ihtilam (baligh).” Wallahu a’lam. (Syarh Shahih Muslim, 8: 15)

Jika dalam hadis di atas mereka dikasih selingan bermainan hingga terbuai bermain lalu mereka memperbaiki puasanya.

Panduan lain yang dapat dilaksanakan ialah ajak anak makan sahur bersama keluarga supaya mempunyai energi untuk berpuasa. Menu makan sahur juga diupayakan dibikin yang memiliki kandungan lemak dan tambahan susu. Jika mereka mau berpuasa, karena itu berilah dari mereka motivasi dan penghargaan, apalagi jika sudah sukses berpuasa sehari penuh. Penghargaan tidak harus berbentuk tambahan uang belanja tetapi juga bisa dengan memberi menu khusus kegemaran anak waktu buka. Panduan paling akhir, buka puasa diputuskan yang manis-manis sebab bisa kembalikan energi pada anak, seumpama dengan kurma dan teh manis hangat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *